Jenis Perkembangan

  1. PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN

Kartono mendefinisikan perkembangan sebagai “perubahan psikofisis sebagai hasil dari proses kematangan fungsi-fungsi psikis dan fisik pada diri anak, yang ditunjang oleh faktor lingkungan dan proses belajar dalam passage waktu tertentu, menuju kedewasaan”. Sedangkan J.P. Chaplin dalam kamusnya menyatakan “prinsipnya adalah tahapan-tahapan pertumbuhan yang progresif dan ini terjadi dalam rentang kehidupan manusia dan organisme lainnya, tanpa membedakan aspek-aspek yang terdapat dalam organisme tersebut”. Syamsu Yusuf dalam bukunya mendefinisikan perkembangan sebagai perubahan yang progress dan kontinyu dalam diri individu dari mulai lahir sampai mati. Yang mana aspek-aspek dari perkembangan meliputi : fisik, intelegensi, emosi, bahasa, sosial, kepribadian, moral dan kesadaran beragama.

Kartono mendefinisikan pertumbuhan sebagai ”perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses kematangan fungsi-fungsi fisik, yang berlangsung secara normal pada diri anak yang sehat, dan dalam peredaran waktu tertentu”.

2. PERKEMBANGAN FISIK DAN PSIKOMOTORIK

Berkaitan dengan perkembangan fisik, Kuhlen dan Thomphson (Hurlock, 1956) mengemukakan bahwa perkembangan fisik individu meliputi empat aspek, yaitu (1) Sistem syaraf, yang sangat mempengaruhi perkembangan kecerdasan dan emosi; (2) Otot-otot, yang mempengaruhi perkembangan kekuatan dan kemampuan motorik; (3) Kelenjar endokrin, yang menyebabkan munculnya pola-pola tingkah laku baru, seperti pada usia remaja berkembang perasaan senang untuk aktif dalam suatu kegiatan yang sebagian anggotanya terdiri dari lawan jenis; dan (4) Struktur fisik/tubuh, yang meliputi tinggi, berat dan proporsi.

Aspek fisiologis lainnya yang sangat pentik bagi kehidupan manusia adalah otak. Otak dapat dikatakan sebagai pusat sentral perkembangan dan fungsi kemanusiaan. Otak juga memiliki pengaruh baik dalam keterampilan motorik, intelektual, emosional, sosial, moral maupun kepribadian.

Semakin matangnya perkembangan sistem syaraf otak yang mengatur otot memungkinkan berkembangnya kompetensi atau keterampilan motorik anak. Keterampilan motorik dibagi menjadi dua jenis, yaitu (1) Keterampilan motorik halus, seperti keterampilan kecekatan jari, menulis, menggambar, menangkap bola dan sebagainya; (2) Keterampilan motorik kasar, meliputi kegiatan-kegiatan otot seperti berjalan, berlari, naik dan turun tangga, melompat dan sebagainya.

Perkembangan keterampilan motorik merupakan faktor yang sangat penting bagi perkembangan pribadi secara keseluruhan.

3. PERKEMBANGAN KOGNITIF

Perkembangan kognitif meliputi perubahan pada pemikiran, intelegensi dan bahasa individu. Seorang individu yang menghafal, memandang benda-benda yang berwarna-warni, membayangkan sesuatu, memecahkan suatu masalah adalah suatu proses kognitif.Perkembangan kognitif (Kellag, 1995) meliputi beberapa aspek, yaitu perkembangan ingatan, perolehan informasi, proses berfikir logis, intelegensi serta perkembangan bahasa.

Piaget membagi tahapan-tahapan perkembangan kognitif menjadi 4 periode, yaitu: (1) Sensorimotor (0-2 tahun), pengetahuan anak diperoleh melalui interaksi fisik, baik dengan orang tua ataupun objek (benda). Pada tahap inilah skema baru terbentuk reflek sederhana; (2) Praoperasional (2-7 tahun), anak mulai menggunakan simbol-simbol untuk merepresentasi dunia (lingkungan) secara kognitif. Simbol-simbol ini seperti : kata-kata dan bilangan yang dapat menggantikan objek, peristiwa dan kegiatan (tingkah laku yang tanpak); (3) Operasional Konkret (7-11 tahun), anak-anak dapat melakukan operasi, dan penalaran logis menggantikan pemikiran intuitif sejauh pemikiran dapat diterapkan ke dalam contoh-contoh spesifik dan kongkrit. Pada tahap ini memungkinkan untuk dapat memecahkan masalah secara logis; (4) Operasional Formal (11 tahun sampai dewasa), individu melampaui dunia nyata, pengalaman-pengalaman kongkrit dan berpikir secara abtrak dan lebih logis dan sistematis.

4. PERKEMBANGAN SOSIAL

Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga diartikan sebagai suatu proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi. Kemampuan anak untuk bergaul atau bersosialisasi dengan orang lain diperoleh anak melalui berbagai kesempatan atau pengalaman bergaul dengan orang-orang dilingkungan, baik orang tua, saudara, teman sebaya atau orang dewasa lainnya.

Perkembangan sosial diantaranya meliputi pengembangan sikap percaya pada orang lain, pemahaman tentang tingkah laku sosial, belajar menyesuaikan perilaku dengan tuntutan lingkungan, belajar memahami perspektf orang lain dan merespon pendapat secara selektif dan lain sebagainya. Dalam pencapaian perkembangan sosial tersebut, tentunya peran orang tua sangat mempengaruhinya.

Perkembangan sosial mulai tampak pada usia prasekolah, karena mereka mulai aktif berhubungan dengan teman sebaya. Tanda-tanda pada tahap ini adalah : (a) Anak mulai mengetahui aturan-aturan, baik dilingkungan sekolah ataupun keluarga: (b) Sedikit demi sedikit anak sudah mulai tunduk pada aturan; (c) Mulai menyadari hak dan kepentingan orang lain.

5. PERKEMBANGAN MORAL

Perkembangan moral adalah berkaitan dengan aturan atau konvensi tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain. Seseorang ketika dilahirkan tidak memiliki moral, tetapi dalam dirinya terdapat potensi moral yang siap untuk dikembangkan. Karena itu, melalui pengalamannya berinteraksi dengan orang lain, individu belajar memahami tentang perilaku mana yang baik, yang boleh dikerjakan dan tingkah laku mana yang buruk, yang tidak boleh dikerjakan.

Teori belajar sosial melihat tingkah laku moral sebagai respon atas stimulus. Dalam hal ini, proses-proses penguatan, penghukuman, dan peniruan digunakan untuk menjelaskan perilaku moral.

Piaget menyimpulkan bahwa pemikiran anak-anak tentang moralitas dapat dibedakan atas dua tahap, yaitu: (a) Heteronomous Morality, tahap perkembangan moral ini terjadi kira-kira pada usia 4 hingga 7 tahun. Pada masa ini yakin akan keadilan immanen, yaitu konsep bahwa bila suatu aturan dilanggar, hukuman akan segara dijatuhkan. (b) Autonomous Morality, tahap perkembangan moral ini terjadi kira-kira usia 7 hingga 10 tahun. Anak menjadi sadar bahwa aturan-aturan dan hukuman diciptakan oleh manusia dan dalam menilai suatu tindakan, seseorang harus mempertimbangkan maksud pelaku dan juga akibatnya.

Perkembangan moral pada anak dapat berlangsung melalui beberapa cara, yaitu:

  1. Pendidikan langsung, baik oleh orang tua, guru atau orang dewasa lainnya.
  2. Identifikasi, dengan cara meniru tingkah laku moral seseorang yang menjadi idolanya.
  3. Proses coba-coba (trial dan error), yaitu mengembangkan tingkah laku moral secara coba-coba.

Dalam membahas proses perkembangan moral ini, Lawrence Kohlerg mengklasifikasikannya ke dalam tiga tahap, yaitu :

Tingkat (level) Tahap (stages)
I. Pra Konvensional 1. Orientasi hukuman dan kepatuhan

2. Orientasi relativis-instrumental

II. Konvensional 3. Orientasi kesepakatan antar-pribadi

4. Orientasi hukum dan ketertiban

III. Pasca- Konvensional 5. Orientasi control sosial legalitas

6. Orientasi prinsip etika universal

6. PERKEMBANGAN BAHASA

Bahasa merupakan kemampun untuk berkomunikasi dengan orang lain. Bahasa merupakan faktor hakiki yang membedakan manusia dengan hewan. Bahasa erat kaitannya dengan perekembangan berfikir individu. Perkembangan berfikir individu tampak dalam perkembangan bahasanya yaitu kemampuan membentuk pengertian, menyusun pendapat dan menarik kesimpulan.

Perkembangan pikiran dimulai pada usia 1,6-2,0 tahun, yaitu pada saat anak dapat menyusun kalimat dua atau tiga kata.

Ada dua tipe perkembangan bahasa anak, yaitu :

a)      Egocentric Speech, yaitu anak berbicara kepada dirinya sendiri (molonog)

b)      Socialized Speech, terjadi ketika berlangsung kontak antara anak dengan temannya atau dengan lingkungannya. Perkembangan ini dibagi kedalam lima bentuk : (a) Adapted information, disini saling terjadi tukar gagasan atau adanya tujuan bersama yang dicari; (b) Critism, yang menyangkut penilaian anak terhadap ucapan atau tingkah laku orang lain; (c) command (perintah), request (permintaan), dan threat (ancaman); (d) questions (pertanyaan); dan answers (jawaban).

Berbicara monolog (Egocentric Speech) berfungsi untuk mengembangkan kemampuan berpikir anak pada umumnya dilakukan oleh anak berusia 2-3 tahun, sementara yang “socialized speech” mengembangkan kemampuan penyesuain sosial (social adjustment).

Referensi :

Chaplin, J.P. 2004. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta : Rajawli Press

Sobur, Alex, Drs. 2003. Psikologi Umum. Bandung : Pustaka Setia

Santrock, John W. 2002. Life- Span Development, Edisi 5 Jilid 1&2. Jakarta : Erlangga.

Yusuf, Syamsu. 2005. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung : Rosdakarya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: