PENDIDIKAN BAGI ANAK BERBAKAT

  1. LAYANAN PENDIDIKAN BAGI ANAK BERBAKAT
  1. a. Kurikulum Berdiferensiasi

Kurikulum berdiferensiasi merupakan kurikulum bagi anak berbakat, terutama mengacu pada penanjakan kehidupan mental melalui berbagai program yang akan menumbuhkan kreativitas serta mencakup berbagai pengalaman belajar intelektual pada tingkat tinggi.

Pengembangan kurikulum berdiferensiasi dilihat dari dua sisi, yaitu dari kebutuhan perkembangan anak berbakat dan dari desain konten kurikulum itu sendiri. Jika dilihat dari kebutuhan perkembangan anak berbakat itu sendiri kurikulum berdiferensiasi memperhatikan perbedaan kualitatif individu berbakat dari manusia lainnya, tanpa melupakan bahwa dia adalah seorang anak manusia yang juga memiliki persamaan perilaku, sifat, dan atau aspek perkembangan tertentu dengan sebayanya.

Sedangkan jika dilihat dari desain konten kurikulum itu sendiri dengan memperhatikan ciri-ciri keberbakatan.

Utami Munandar dalam bukunya menuliskan tentang modifikasi kurikulum bagi anak berbakat. Maker (1982) menekankan bahwa kurikulum anak berbakat memerlukan modifikasi dalam empat bidang, yaitu materi yang diberikan, proses atau metode pengajaran, produk yang diharapkan siswa, dan lingkungan belajar.

  1. Modifikasi materi (konten) kurikulum

Siswa berbakat di dalam kelas mungkin sudah menguasai materi pokok bahasan sebelum diberikan. Mereka memiliki kemampuan untuk belajar keterampilan dan konsep yang lebih maju. Untuk menunjang kemampuan siswa diperlukan modifikafi kurikulum. Guru dapat merencanakan untuk menyiapkan materi yang lebih kompleks, menyiapkan bahan yang lebih canggih atau mencari penempatan alternative bagi siswa.

Program seperti kelas yang maju lebih cepat, pengelompokan silang tingkat, belajar mandiri, system maju berkelanjutan dan pemadatan kurikulum dapat membantu modifikasi konten, tetapi belum tentu menjamin praktek kurikulum yang sesuai. Yang penting diperhatikan pula ialah cara pembelajarannya.

Hal ini dapat berupa mengajukan pertanyaan yang menuntut siswa berfikir dalam istilah abstrak, memberikan pelajaran pararel, atau membahas lebih dari satu topic studi pada saat yang sama, semua tergantung dari situasi dan kondisi kelas atau sekolah tersebut. Situasi yang berbeda menuntut pendekatan yang berbeda. Kunci keberhasilan dalam modifikasi konten kurikulum adalah fleksibilitas, memahami kapan itu diperlukan, dan memiliki sarana prasarana atau sumber-sumber yang dapat dimanfaatkan oleh siswa.

  1. Modifikasi proses/metode pembelajaran

Proses atau metode penyampaian materi adalah cara kedua untuk mendeferensiasi kurikulum bagi siswa yang memiliki kemampuan atau kecerdasan luar biasa. Siswa ini sering menunjukkan kemelitan yang tidak dapat dibendung, hasrat untuk mendalami subyek yang diminati, keinginan untuk belajar mandiri, kapasitas dan komitmen untuk melakukan penelitian dan kemampuan untuk berpikir dengan cara-cara yang berbeda dari siswa lainnya. Kemampuan-kemampuan ini jika digandeng dengan tujuan pendidikan bertujuan untuk menyiapkan siswa belajar mandiri dan belajar seumur hidup, menuntut guru untuk memodifikasi cara penyampaian konten dan cara siswa belajar.

Program yang memungkinkan guru untuk membuat modifikasi proses tanpa mengganggu kelancaran pembelajaran di dalam kelas, adalah antara lain program yang menggunakan teknik pertanyaan tingkat tinggi, simulasi, membuat kontrak belajar, menggunakan mentor, buku-buku yang sesuai untuk siswa berbakat, dan pemecahan masalah masa depan. Namun, seperti halnya dengan modifikasi konten, struktur program semata-mata tidak cukup untuk menjamin kurikulum yang tepat untuk siswa berbakat. Perubahan dalam cara penyampaian materi dan peran baik guru maupun siswa perlu disesuaikan.

Fleksibilitas merupakan kunci keberhasilan dalam modifikasi proses dan metode pembelajran. Hanya menggunakan salah satu metode penyamapain, apakah itu metode penemuan sendiri tidaklah tepat. Guru yang berpengalaman dapat membantu siswa memahami materi yang dipelajari. Mereka dapat menyesuaikan metode pembelajaran yang paling bermanfaat bagi setiap siswa, karena gaya belajar siswa dapat berbeda-beda. Oleh karena itu, beberapa metode yang berbeda dapat digunakan pada saat yang sama.

  1. Modifikasi produk belajar

Produk belajar siswa merupakan bidang lain yang didiferensiasi untuk siswa berbakat di dalam kelas. Siswa berbakat dapat menggunakan kemampuan mereka untuk mendalami topic dan menunjukkan kreativitas dan komitmen dalam merancang produk-produk divergen berdasarkan pengalaman belajarnya.

Guru memberikan beberapa alternalif kepada siswa mengenai produk yang akan dihasilkan dan kesempatan untuk merancang produknya sendiri. Siswa membuat jurnal, menulis untuk koran sekolah, melakukan drama, wawancara dan kritik untuk menyimpulkan dan menyampaikan pengetahuan yang telah mereka peroleh dalam satuan pokok bahasan mata pelajaran tertentu. Siswa sering memerlukan dorongan untuk menciptakan produk divergen.

  1. Modifikasi lingkungan belajar

Jika di dalam kelas biasa akan ada program untuk siswa berbakat, maka perlu diciptakan lingkungan kelas yang memungkinkan semua siswa merasa bebas untuk belajar dan dapat belajar dengan caranya sendiri. Lingkungan belajar amat menentukan keberhasilan siswa. Siswa akan lebih banyak mengajukan pertanyaan di dalam lingkungan dimana dia merasa aman. Siswa cenderung menjadi belajar seumur hidup dalam lingkungan yang menghargai belajar, dan mengajar siswa bagaimana menggunakan bahan, sumber, waktu dan bakat mereka sendiri untuk menjajaki bidang-bidang minatnya sendiri.

Agar program siswa berbakat berhasil, diperlukan lingkungan yang berpusat pada siswa. Lingkungan yang berpusat pada siswa menunjukkan ciri-ciri sebagai berikut :

a)      Siswa menjadi mitra dalam membuat keputusan tentang kurikulum.

b)      Pola duduk yang memudahkan siswa.

c)      Kegiatan dan kesibukan di dalam kelas.

d)     Rencana belajar yang diindividualkan.

e)      Keputusan dibuat bersama oleh guru dan siswa jika mungkin.

Dengan modifikasi lingkungan belajar tradisional yang berpusat pada guru ke lingkungan belajar yang berpusat pada siswa, siswa menjadi pelajar yang aktif, madiri, dan bertanggung jawab, dan semua siswa termasuk siswa berbakat dimungkinkan untuk memperoleh pembelajaran yang sesuai dengan minat dan tingkat kemampuan mereka.

  1. b. Pembelajaran Induktif.

Salah satu kepedulian yang menjadi bagian integrasi dari permasalahan anak berbakat adalah metode pembelajarannya. Srategi pembelajaran bagi anak berbakat harus terfokus pada belajar bagaimana seharusnya belajar. Strategi itu harus sesuai dengan tingkat perkembangan intelektual dan social siswa serta tuntutan dan kesempatan dalam situasi belajar.

Metode yang paling sesuai dengan tuntutan patokan itu adalah metode pembelajaran induktif, divergen dan berfikir evaluative. Berfikir induktif biasanya bertolak dengan berfikir deduktif, sebenarnya kedua pendekatan tersebut perlu dalam setiap pembelajaran. Namun yang terjadi di berbagai sekolah pada umumnya mengggunakan pembelajaran deduktif saja. Berfikir deduktif siswa hanya dituntut atau diarahkan pada satu jawaban yang benar (berfikir konvergen). Sebaliknya pembelajaran induktif mengarahkan siswa untuk berfikir divergen, sebenarnya tidak ada satu jawaban.

Pembelajaran yang bersifat induktif memiliki rasional yang kuat untuk meningkatkan:

1)      Penggunaan intelegensi secara optimal dengan memanfaatkan secara penuh berfungsinya kedua belahan otak

2)      Kemampuan mengarahkan diri pembelajaran dan tanggung jawab untuk memperoleh kemajuan dalam mencapai sasaran jangka panjang atau jangka pendek

3)      Kemampuan untuk mensintesis, informasi perolehan konsep dan generalisasi

4)      Kemampuan mentrasfer belajar dalam situasi berbeda

  1. c. SEM (Schoolwide Enrichement Mode)

Program ini di dasarkan atas konsep pengembangan berbakatan yang menggunakan kriteria jamak (multiple criteria) pada proses seleksinya dan tidak pada asas ya atau tidak diterimanya siswa itu.

Adapun ciri utama model ini adalah memberi tanggung jawab yang lebih besar pada guru kelas atau orang yang ditugasi menangani program. Ini disebabkan karena sebagian besar kegiatan siswa tetap ada di dalam kelas dengan guru yang ada di kelas. Kegiatan berorientasi proses harus sejauh mungkin dapat berjalan bersamaan dengan kurikulum umum yang sedang berjalan, karena hal itu dapat juga mengurangi eksklusivisme (Renzuli & Reis, dalam Colangelo & Davis, 1991)

  1. d. Pengelompokan kemampuan belajar

Telah banyak disinggung tentang pengelompokan anak-anak berbakat dalam proses belajar. Meskipun ada yang berbeda pendapat dengan metode pengelompokan ini. Namun, satu hasil yang jelas tampak, anak berbakat mendapat perolehan yang lebih banyak dalam program yang sifatnya khusus dari pada mereka dicampur dengan anak lainnya. Ada dua ciri khas program yang menjadikan dampak efektif ini terjadi, yaitu:

a)      Siswa diseleksi secara amat ketat. Mereka secara homogen memiliki bakat akademis yang luar biasa. Adaptasi dari pembelajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan mereka.

b)      Guru yang pada umumnya memiliki keterlekatan tugas dalam memenuhi kebutuhan anak itu dan akan menggunakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan luar biasa anak berbakat itu.

  1. PENILAIAN ANAK BERBAKAT

Proses penilaian anak berbakat tidak berbeda dari penilaian anak lainnya. Namun, karena kurikulum anak berbakat berbeda dalam cakupan tujuan, terdapat perbedaan pula dalam penerapan penilaian itu. Penerapan penilaian itu mencakup ciri-ciri belajar yang berkenaan dengan tingkat berfikir tinggi dan keterampilan intelektual tinggi pula.

Berbagai alat penilaian anak berbakat sering mengandung tesis bahwa anak berbakat mampu menilai hasil kinerjanya secara kritis. Selain itu, setiap anak harus memperoleh umpan balik tentang hasil kinerjanya secara terbuka.

Setiap assessment sebenarnya merupakan bagian dari suatu proses penyerahan (referral), yang mengarahkan anak pada suatu program atau latihan tertentu. Biasanya penilaian yang menunjuk pada suatu assessment dilakukan oleh guru yang bukan saja mengenal muridnya, melainkan juga melatih, mendidik dan mengamatinya sehari-hari. Assessment ini merupakan langkah dalam proses referral-placement (penyerahan-penempatan) tertentu dan merupakan rangkaian upaya perolehan informasi dan bukan semata-mata hasil proses itu (Harlen, 1983).

Pengukuran ada dua macam yaitu : pengukuran dengan acuan norma (norm-reference) dan pengukuran acuan kriteria (criterion-reference). Tujuan pengukuran berbeda-beda. Bila kita hedak membandingkan anak tertentu, maka kita perlakukan pengukuran acuan norma (norm-reference) dengan :

(a)    Membandingkan anak berbakat tersebut dengan seluruh populasi

(b)   Membandingkan anak berbakat dengan teman sebaya

(c)    Membandingkan anak berbakat dengan populasi anak berbakat saja

(d)   Membandingkan anak berbakat dengan dirinya sendiri.

Sebaliknya, proses dan produk belajar yang mengacu pada ketuntasan belajar (criterion-reference) menggunakan instrument dan prosedur yang merupakan

(a)    Pengejawantahan dari kekhususan layanan pendidikan anak berbakat

(b)   Hasil umpan balik untuk keperluan tertentu

(c)    Pemantulan tingkat kemantapan penguasaan sautu materi sesuai dengan sifat, keterampilan, kemampuan atau kecepatan belajar seseorang (Semiawan, dkk., 1987 dan Semiawan, 1992).

Sesungguhnya skor yang diperoleh dari dua cara pengukuran ini menghasilkan dua jenis keterangan, yaitu (a) derajat keberhasilan peserta didik dalam mencapai kriterion, (b) urutan relatif dari individu berdasarkan hasil kinerja masing-masing dalam tes yang pertama menggunakan kriterion kinerja tertentu sebagai standar mutu, dan yang kedua menggunakan norma kelompok sebagai standar yang bersifat relatif.

Sebenarnya konsep pengukuran hasil belajar harus dilihat sebagai suatu kontinum dari perolehan pengetahuan dari rentang tidak adanya penguasaan sampai dengan perbuatan dan kinerja penguasaannya. Hasil belajar seseorang terletak pada suatu titik pada garis lanjut ini, seperti ditandai oleh kinerjanya. Cara penilaian ataupun pengukuran ini tidak selalu menunjuk pada hasil akhir yang diinginkan, melainkan merupakan petunjuk tahap kriterion titik mana yang dikuasai individu, sehingga memberikan keterangan mengenai taraf kemampuan yang dicapai tanpa bergantung pada kinerja temannya. Sebaliknya, pengacuan aturan norma terutama membandingkan keberhasilan seseorang dengan temannya (Semiawan, 1990)

Unsur-unsur agar penilaian efektif bagi anak berbakat yaitu :

Pra-penilaian (pre-assessment)

Pra-penilaian adalah suatu metode, strategi, atau proses yang digunakan untuk menentukan tingkat kesiapan atau ketertarikan siswa saat ini untuk menyusun pembelajaran yang tepat. Pra-penilaian:

  • Memberikan data dan informasi yang bisa menentukan pilihan atau tingkat pembelajaran bagi siswa dalam kelas terpisah.
  • Membantu pengajar memahami sifat perbedaan –perbedaan pembelajaran pada siswanya sebelum menyusun pembelajaran
  • Memungkinkan siswa untuk menampilkan penguasaan, menandakan perlunya untuk penyusunan, atau untuk menunjukkan dimana perbaikan diperlukan sebelum pembelajaran dimulai.

Penilaian Formatif (formative assessment)

Penilaian formatif dilakukan oleh para pendidik untuk menentukan pengaruh aktivitas pembelajaran untuk membuat keputusan tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya bagi seorang siswa. Tipe penilaian ini seringkali dilakukan selama pengajaran pelajaran aktual atau pemantauan praktik mandiri, meskipun ini bisa dilakukan juga ketika pengajar mencerminkan pada periode pengajaran paling terbaru. Penilaian formatif:

  • Memberikan data tentang apakah siswa memahami tugas yang diberikan dan bisa menyelesaikannya dengan baik
  • Memungkinkan pengajar untuk melakukan penyesuaian pada tugas atau pelajaran pada siswa cakap dan berbakat lebih baik atau memenuhi kebutuhan pembelajaran khusus mereka.
  • Mendorong perencanaan jangka pendek yang terbuka pada performa siswa terbaru.

Penilaian Sumatif (summative assessment)

Penilaian sumatif dilakukan ketika data performa siswa diringkas untuk komunikasi pada penyimak yang tertarik, meliputi siswa, orangtua, pegawai sekolah lain, para penyandang dana, dan masyarakat umum. Penilaian performa paling umum diluar kelas siswa adalah laporan hasil tes pencapaian standar. Tipe laporan ini bisa digunakan untuk mengidentifikasi area-area khusus kurikulum atau populasi siswa khusus yang mencapai sasaran kurikulum atau tidak. Bagi populasi berbakat, seringkali berguna untuk menentukan jumlah siswa yang selalu mendapat nilai mendekati sempurna. Ini bisa menjadi indikator ketidaktepatan pendekatan kurikulum dan pembelajaran yang diterapkan dalam kelas umum. Bentuk yang paling umum dari penilaian sumatif yang diberikan pada tingkat siswa adalah angka.

2 Komentar (+add yours?)

  1. nana
    Agu 03, 2010 @ 00:57:46

    sangat berguna terimakasih

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: