Kesulitan Belajar

Untuk mendiagnosa kesulitan belajar, diperlukan adanya prosedur yang terdiri atas langkah-langkah tertentu yang diorientasikan pada ditemukannya kesulitan belajar jenis tertentu yang dialami siswa. Prosedur seperti ini dikenal sebagai “diagnostik” kesulitan belajar.

Banyak langkah diagnostik yang dapat ditempuh, selain itu untuk identifikasi anak berkesulitan belajar dapat dilakukan esesmen yang informal dan formal. Untuk langkah diagnostik yang cukup terkenal adalah prosedur Weener & Senf sebagaimana yang dikutip Wardani sebagai berikut :

  1. Melakukan observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang siswa ketika mengikuti pelajaran.
  2. memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa khususnya yang diduga mengalami kesulitan belajar.
  3. mewawancarai orang tua atau wali siswa untuk mengetahui hal ihwl keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar
  4. memberikan ters diagnostik bidang kecakapan tertentu untuk mengetahu hakikat kesulitan belajar yang dialami siswa.
  5. memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) khususnya kepada siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar.

Langkah-langkah tersebut dapat dilakukan dengan mudah oleh guru, kecuali langkah ke-5 (tes IQ).

Untuk yang menggunakan metode esesmen informal, metode ini lebih praktis, karena dapat dilakukan oleh guru dengan menggunakan materi yang ada di dalam kelas dan sesuai dengan jenjang pendidikan anak. Bila dari esesmen informal diduga adanya kelainan, maka harus dirujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Esesmen informal mencakup

Pemahaman Bahasa:

tidak dapat mengikuti perintah verbal

kurang memahami arti kata-kata

kurang memahami pelajarn yang diberikan atau diskusi di dalam kelas

kurang mampu untuk mengingat informasi yang didengar

Ekspresi Bahasa:

menguasai kosakata terbatas

kurang mampu untuk mengingat kembali kata-kata

kurang mampu untuk menyatakan pengalaman

tidak dapat mengekspresikan kata-kata atau kalimat secara lengkap dan benar

tidak mampu untuk menyatakan idenya

Membaca:

tidak mengenal huruf atau terbatas beberapa huruf

tidak dapat membaca dengan lancar

membaca huruf-huruf tertukar atau terbalik seperti dudi dibaca budi, ubi dibaca ibu

Menulis (bahasa tulisan):

huruf-huruf dalam kata-kata ditulis terbalik (mata menjadi tama), atau dihilangkan (lampu menjadi lapu), atau ditambahkan (ikan menjadi ikang), atau diganti (kuku menjadi pupu)

salah ejaan

Aritmatika, Matematika:

tidak mampu membaca angka

tidak mengenal konsep angka, konsep matematika

tidak mampu menjumlah, mengurangi, mengalikan, membagi

Orientasi:

gangguan orientasi spasial/ruang

gangguan orientasi waktu

tidak dapat membedakan kanan-kiri, atas-bawah, samping

Motorik:

keseimbangan tubuh: sering jatuh tanpa sebab nyata, tidak dapat naik dan mengayuh sepda roda dua, tidak dapat berdiri dengan satu kaki atau melompat di tempat dengan sau kaki

cara memegang pensil atau ball point dengan benar atau posisi terbalik

menulis lambat

tulisan tidak terbaca

tidak terampil dalam membuat prakarya, konstruksi

Lateralisasi:

kecekatan tangan:

menggunakan tangan kanan atau tangan kiri (kidal) atau kedua tangan (ambidekstra) bergantian bila menulis atau menggambar, atau bermain (mis. melempar atau menagkap bola)

Atensi (Perhatian) dan Konsentrasi:

tidak dapat duduk diam di dalam kelas hiperaktif (berganti-ganti tempat duduk atau bergerak terus di tempat duduk)

mengganggu teman, impulsif

berbicara terus-menerus (hiperverbal)

tidak adapat memusatkan perhatian atau mendengarkan dalam jangka waktu cukup lama.

Bila dari hasil evaluasi esesmen informal terdapat dugaan adanya kesulitan belajar spesifik, maka perlu dirujuk untuk dilakukan esesmen formal oleh para ahli terkait. Hasil pemeriksaan esesmen berbagai disiplin terkait penting untuk program terapi dan pendidikan remedial bagi anak berkesulitan belajar.

MENGATASI KESULITAN BELAJAR

Adapun langkah-langkah penting dalam mengatasi kesulitan belajar ini adalah sebagai berikut :

  1. Menganalisis hasil diagnosis.

yaitu menelaah bagian-bagian masalah dan hubungan antarbagian tersebut untuk memperoleh pengertian yang benar mengenai kesulitan belajar yang dihadapi siswa. Data dan informasi yang diperoleh guru melalui diagnostik kesulitan belajar tadi perlu dianalisis sedemikian rupa, sehingga jenis kesulitan yang dialami siswa yang berprestasi rendah itu dapat diketahui secara pasti.

  1. Mengidentifikasi dan menentukan bidang kecakapan tertentu yang memerlukan perbaikan.

Guru diharapkan dapat menentukan bidang kecakapan tertentu yang dianggap bermasalah dan memerlukan perbaikan. Bidang-bidang kecakapan bermasalah ini dapat dikategorikan menjadi tiga macam, yaitu :

    1. Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru sendiri
    2. Bidang kecakapan bermasalah yang dapat ditangani oleh guru dengan bantuan orang tua
    3. Bidang kecakapan bermasalah yang tidak dapat ditangani baik oleh guru maupun orang tua.
  1. menyusun program berbaikan, khususnya program remedian teaching (pengajaran perbaikan)

Adapun hal-hal yang perlu ditetapkan yaitu :

    1. tujuan pengajaran remedial
    2. meteri pengajaran remedial
    3. metode pengajaran remedial
    4. alokasi pengajaran remedial
    5. evaluasi kemajuan siswa setelah mengikuti program pengajaran remedial.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: