Perkembangan Psikososial Anak

PENDAHULUAN

Masa kanak-kanak dimulai setelah masa bayi yang penuh ketergantungan, yakni kira-kira usia 2 tahun sampai anak matang secara seksual, yakni kira-kira usia 13 tahun untuk wanita dan 14 tahun untuk pria. Selama periode ini (kira-kira 11 tahun bagi wanita dan 12 tahun bagi pria) terjadi sejumlah perubahan yang signifikan, baik secara fisik maupun psikologis.

Sejumlah ahli membagi masa anak-anak menjadi dua yaitu masa anak-anak wala dan masa anak-anak akhir. Masa anak-anak awal berlangsung dari 2 sampai 6 tanuh, dan masa anak-anak akhir dari usia 6 tahun sampai saat anak matang seara seksual.

Dalam makalah ini akan dibahas tentang perkembangan masa anak-anak awal yaitu tentang:

  1. Perkembangan emosi masa kanak-kanak awal.
  2. Perkembangan sosial masa kanak-kanak awal.
  3. Perkembangan bermain.
  4. Perkembangan moral.
  5. PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL PADA MASA KANAK-KANAK AWAL.

Ada banyak macam perkembangan psikososial pada masa awal kanak-kanak diantaranya adalah :

A.     PERKEMBANGAN EMOSI MASA KANAK-KANAK AWAL

Pada usia 4 tahun, anak sudah mulai menyadari akunya, bahwa akunya (dirinya) berbeda dengan orang lain ataupun benda yang lain. Kesadaran ini diperoleh dari pengalamannya, bahwa tidak setiap keinginannya dipenuhi oleh orang lain atau benda lain.

Jika lingkungannya (terutama orang tunya) tidak mengakui harga diri anak, seperti memperlakukan anak secara keras, atau kurang menyanyanginya. Maka pada diri anak akan berkembang sikap-sikap keras kepala, pemalu dll.

Beberapa jenis emosi yang berkembang pada masa anak yaitu :

a)      Takut, yaitu perasaan terancam oleh suatu objek yang dianggap membahayakan. Rasa takut terhadap sesuatu berlangsung melalui tahapan : (1) mula-mula tidak takut, karena anak belum sanggup melihat kemungkinan bahaya yang terdapat dalam objek. (2) timbul rasa takut  setelah mengenal adanya bahaya. (3) rasa takut bisa menghilang setelah mengetahui cara-cara menghindar dari bahaya.

b)      Cemas, yaitu perasaan takut yang bersifat khayalan, yang tidak ada objeknya. Kecemasan ini muncul karena khayalan,  misalnya timbul setelah membaca komik atau menonton film-film menakutkan.

c)      Marah, merupakan perasaan tidak senang atau benci baik terhadap orang lain atau diri sendiri atau objek tertentu baik berupa verbal atau non verbal. Pada masa ini rasa marah sering terjadi karena : (1) banyak stimulus yang menyebabkan dia marah, (2) marah karena mereka ingin mendapatkan perhatian dan memuaskan keinginannya sendiri.

d)      Cemburu, yaitu perasaan tidak senang terhadap orang lain yang dipandang telah merebut kasih sayang dari seseorang yang telah mencurahkan kasih sayang kepadanya. Sumber yang menimbulkan rasa cemburu selalu bersifat situasi sosial. Perasaan cemburu ini diikuti dengan ketegangan yang biasanya dapat diredakan dengan reaksi-reaksi yaitu : (1) agresif / permusuhan terhadap saingan, (2) Regresif / perilaku kekanak-kanakan seperti ngompol atau menghisap jempol. (3) sikap tidak peduli, (4) menjauhkan diri dari saingan.

e)      Kegembiraan, kesenangan , kenikmatan. Yaitu satu perasaan yang positif, nyaman karena terpenuhi keinginannya. Kondisi yang melahirkan perasaan gembira pada anak, diantaranya terpenuhinya kebutuhan jasmaniah (makan dan minum), keadaan jasmaniah yang sehat, diperolehnya kasih sayang, ada kesempatan untuk bergerak (bermain secara leluasa), dan memiliki mainan yang disenanginya.

f)        Kasih sayang, yaitu perasaan senang untuk memberikan perhatian atau perlindungan terhadap orang lain, hewan atau benda. Perasaan ini berkembang berdasarkan pengalamannya yang menyenangkan dalam berhubungan dengan orang lain, hewan atau benda. Kasih sayang anak kepada orang tua atau saudaranya sangat dipengaruhi oleh iklim emosional yang ada dalam keluarganya.

g)      Phobi, yaitu perasaan takut terhadap objek yang tidak patut ditakutinya (takut yang abnormal), seperti takut air, petir. Perasaan ini muncul akibat perlakuan orang tua yang suka menakut-nakuti anak yang biasanya digunakan sebagai cara orang tua untuk menghukum atau menghentikan perilaku anak yang tidak disenanginya.

h)      Ingin Tahu (Curiocity), yaitu perasaan ingin mengenal dan mengetahui segala sesuatu atau objek-objek yang bersifat fisik atau non fisik. Perasaan ini ditandai dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan anak. Masa bertanya (masa haus nama) ini dimulai pada usia 3 tahun dan mencapai puncaknya pada sekitar usia 6 tahun.

Perkembangan emosi yang sehat sangat membantu bagi keberhasilan anak belajar. Oleh karena itu, dalam rangka mengembangkan emosi anak yang sehat, pendidik seyogyanya memberikan bimbingan kepada mereka akan mereka dapat mengembangkan hal-hal berikut :

a)      Kemampuan untuk mengenal, menerima, dan berbicara tentang perasaan-perasaannya.

b)      Menyadari bahwa ada hubungan antara emosi dengan tingkah laku sosial.

c)      Kemampuan untuk menyalurkan keinginannya tanpa mengganggu perasaan orang lain.

d)      Kemampuan untuk peka terhadap perasaan dan kebutuhan orang lain.

B.     PERKEMBANGAN SOSIAL MASA KANAK-KANAK

Menurut Ericson tahap psikososial yang menandai masa awal anak-anak adalah prakarsa (initiative) dan rasa bersalah (guilt). Pada masa ini anak-anak yakin bahwa mereka adalah diri mereka sendiri; yang selama masa awal anak-anak, mereka harus menemukan menjadi apa mereka kelak. Mereka mengidentifikasikan diri secara intensif dengan orang tua mereka, yang hampir sepanjang waktu tampak sangat kuat dan cantik dimata mereka, walaupun seringkali tidak masuk akal, tidak menyenangkan dan bahkan kadang-kadang berbahaya. Selama masa awal anak-anak, anak-anak menggunakan keterampilan-keterampilan perseptual, motorik, kognitif dan bahasa mereka untuk melakukan sesuatu.

Mereka memiliki energi berlebihan yang memungkinkan mereka untuk melupakan kegagalan-kegagalan dengan cepat dan mendekati daerah-daerah baru yang nampaknya mnyenangkan walaupun tampak berbahaya.

Pada tahap initiative atau prakarsa, anak sudah siap dan berkeinginan untuk belajar dan berkerja sama dengan orang lain untuk mencapai tujuannya. Yang berbahaya pada tahap ini, adalah tidak tersalurkannya energi yang mendorong anak untuk aktif (dalam rangka memenuhi keinginannya), karena mengalami hambatan atau kegagalan sehingga anak mengalami Guilt atau rasa bersalah. Rasa bersalah inilah yang akan berdampak kurang baik bagi perkembangan kepribadian anak, dia bisa menjadi nakal atau pendiam (kurang bergairah).

Pengatur utama prakarsa adalah kata hati (conscience). Anak-anak sekarang tidak hanya merasa takut akan tertangkap, tetapi mereka juga mulai mendengar suara batin pengawasan diri sendiri, pembimbing diri sendiri dan penghukuman diri sendiri. Prakarsa dan antusiasme mereka dapat menyebabkan mereka tidak hanya menerima hadiah saja tetapi juga menerima hukuman. Kekecewaan besar pada tahap ini menyebabkan suatu pelepasan rasa bersalah yang merendahkan harga diri anak.

Pada usia prasekolah terutama mulai pada usia 4 tahun, perkembangan sosial anak sudah nampak jelas karena mereka sudah mulai aktif berhubungan dengan teman sebayanya. Tanda-tanda perkembangan sosial pada masa kanak-kanak sosial adalah :

  1. Anak mulai mengetahui aturan-aturan, baik dilingkungan keluarga ataupun dalam lingkungan bermain.
  2. Sedikit demi sedikit anak sudah mulai tunduk pada peraturan.
  3. Anak mulai menyadari kepentingan dan hak orang lain.
  4. Anak mulai dapat bermain dengan anak-anak lain atau teman sebaya.

Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh iklim sosio-psikologis keluarganya. Apabila dalam keluarga tercipta suasana yang harmonis, memperhatikan, saling membantu atau bekerja sama dalam menyelesaikan tugas-tugas keluarga, terjalin komunikasi antara anggota keluarga dan konsisten dalam melaksanakan aturan, maka anak akan memiliki kemampuan atau penyesuaian sosial dalam hubungan dengan orang lain.

Kematangan penyesuaian sosial anak akan sangat terbantu, apabila anak dimasukkan ketaman kanak-kanak, TK sebagai “jembatan bergaul” merupakan tempat yang memberikan peluang kepada anak untuk belajar memperluas pergaulan sosialnya. TK dipandang mempunyai konstribusi yang baik bagi perkembangan sosial anak, kerena alasan-alasan berikut :

  1. Suasana TK sebagian masih seperti suasana keluarga
  2. Tata tertibnya masih longgar, tidak terlalu mengikat kebebasan anak
  3. Anak berkesempatan untuk aktif bergerak, bermain, dan riang gembira  yang kesemuanya memiliki nilai pedagogis.
  4. Anak dapat mengenal dan bergaul dengan teman sebaya yang beragam baik etnis agama dan budaya.

Selama bertahun-tahun prasekolah, hubungan orang tua (pengasuh) dan anak merupakan dasar bagi perkembangan sosial dan emosioanal. Sejumlah ahli mempercayai bahwa kasih sayang orang tua (pengasuh) selama beberapa tahun pertama kehidupan merupakan kunci utama perkembangan sosial anak, menigkatkan kemungkinan anak memiliki kompetensi secara sosial dan penyesuaian diri yang baik pada tahun-tahun prasekolah dan sesudahnya.

Perkembangan psikososial dan kepribadian sejak usia pra sekolah hingga akhir masa sekolah ditandai oleh semakin meluasnya pergaulan sosial, terutama dengan teman sebaya. Sejumlah peneliti telah merekomendasikan betapa hubungan sosial dengan teman sebaya memiliki arti yang sangat penting bagi perkembangan kepribadian anak.

Selain itu gender juga merupakan salah satu aspek penting yang mempengaruhi perkembangan sosial pada masa kanak-kanak awal. Istilah gender dimaksudkan sebagai tingkah laku dan sikap yang diasosiasikan dengan laki-laki dan perempuan. Pada umumnya anak usia 2 tahun sudah dapat menerapkan label laki-laki atau perempuan secara tepat atas dirinya sendiri dan orang lain. Meskipun demikian pada usia ini anak belum memahami ketetapan gender. Konsep gender lebih didasarkan pada ciri-ciri fisik, seperti pakaian, model rambut atau jenis permainan. Pada umumnya anak-anak baru mencapai ketetapan gender pada usia 7 hingga 9 tahun.

Ketika konsep mereka tentang ketetapan gender terbentuk dengan jelas, anak-anak kemudian akan bermotifasi menjadi seorang laki-laki atau perempuan yang sejati. Oleh karena itu biasanya dia akan meniru perilaku dari jenis kelamin yang sama.

C.     PERKEMBANGAN PERMAINAN

  • Definisi Permainan.

Sebagian besar interaksi antara teman sebaya selama masa kanak-kanak melibatkan permainan. Karena itu, kebanyakan hubungan sosial dengan teman sebaya dalam masa ini terjadi dalam permainan. Apa sih permainan itu? Permainan adalah salah satu bentuk aktivitas sosial yang dominan pada awal anak-anak, sebab anak-anak menghabiskan waktu lebih banyak waktunya di luar rumah dengan teman-temannya dibanding dengan aktivitas lainnya. Permainan adalah  suatu kegiatan yang menyenangkan yang dilaksanakan untuk kepentingan kegiatan itu sendiri. Bagi anak-anak proses melakukan sesuatu lebih menarik daripada hasil yang akan didapatkannya (Schwartman, 1978)

  • Fungsi Permainan.

Permainan memiliki banyak fungsi, permainan juga memiliki arti yang sangat penting bagi perkembangan kehidupan anak-anak. Permainan meningkatkan afliasi dengan teman sebaya, mengurangi tekanan, meningkatkan perkembangan kognitif, meningkatkan daya jelajah dan memberi tempat berteduh yang aman bagi perilaku yang secara potensial berbahaya. Permainan meningkatkan kemungkinan bahwa anak-anak akan berbicara dan berinteraksi dengan satu sama lain. Selama interaksi ini, anak-anak mempraktekkan peran-peran yang mereka akan laksanakan dalam hidup masa depannya.

Hetherington & Parker (1979) menyebutkan ada tiga fungsi utama dari permainan:

  1. Fungsi Kognitif.

Fungsi kognitif permainan membantu perkembangan kognitif anak, yaitu dengan permainan anak-anak menjelajahi lingkungannya, mempelajari objek-objek disekitarnya dan belajar memecahkan masalah yang dihadapinya.

  1. Fungsi Sosial.

Fungsi sosial permainan dalam meningkatkan perkembangan sosial anak, khususnya dalam permainan fantasi dengan memerankan suatu peran. Anak belajar memahami orang lain dan peran-peran yang akan dimainkan dikemudian hari setelah tumbuh menjadi orang dewasa.

  1. Fungsi Emosi

Fungsi emosi permainan memungkinkan anak memecahkan sebagian dari masalah emosionalnya, anak belajar mengatasi kegelisahan dan konflik batin karena kemungkinan besar permainan anak melepaskan energi fisik yang dan membebaskan perasaan-perasaan yang terpendam.

Bagi Freud dan Erikson permainan adalah suatu bentuk penyesuaian diri manusia yang sangat berguna, menolong anak menguasai kecemasan dan konflik karena tekanan-tekanan terlepas di dalam permainan anak dapat mengatasi masalah-masalah kehidupan.

Piaget melihat permainan sebagai suatu media yang meningkatkan perkembangan kognitif anak-anak. Ia juga mengatakan bahwa perkembangan kognitif anak-anak membatasi cara mereka bermain. Piaget juga yakin, bahwa struktur-struktur kognitif perlu dilatih dan permainan memberi setting yang sempurna bagi latihan ini. Misalnya : saat anak belajar dengan angka-angka mereka akan tertawa dan bahagia saat berhasil menyelesaikan dengan baik.

Vygotsky, ia yakin bahwa permainan adalah suatu setting yang sangat bagus bagi perkembangan kognitif. Ia tertarik khususnya pada aspek-aspek simbolis dan kayalan suatu permainan. Contoh : seorang anak menganggap boneka sebabagai sosok bayi yang hidup.

Daniel Berlyne menjelaskan permainan sebagai suatu yang menegaskan dan menyenangkan karena permainan itu memuaskan dorongan penjelajahan kita, yang meliputi keingintahuan dan hasrat akan informasi tentang sesuatu yang baru atau yang tidak bisa.

  • Jenis-Jenis Permainan.

Studi kalsik terhadap aktivitas permainan anak-anak pra sekolah di lakukan oleh Mildred Perten. Berdasarkan oservasinya terhadap anak-anak usia 2 hingga 5 tahun, Perten menentukan 6 ketegori permainan anak-anak yaitu:

  1. Unoccupied Play. Anak memperhatikan dan melihat segala sesuatu yang menarik perhatiannya dan melakukan gerakan-gerakan bebas dalam bentuk tingkah laku yang tidak terkontrol.
  2. Solitary Play. Anak dalam sebuah kelompok asik bermain sendiri-sendiri dengan bermacam-macam alat permainan, sehingga tidak terjadi kontak antara satu sama lain dan tidak peduli terhadap apapun yang yang sedang terjadi.
  3. Onlooker Play. Terjadi ketika anak melihat orang lain bermain, anak ikut berbicara dengan anak-anak lain itu dan mngajukan pertanyaan. Tetapi anak tidak ikut terlibat dalam permainan tersebut.
  4. Parallel Play. Anak-anak bermain dengan permainan yang sama, tetapi tidak ada kontak antara satu dengan yang lain atau tukar menukar permainan.
  5. Assosiative Play. Anak bermain bersama-sama saling pinjam alat permainan, tetapi p ermainan itu tidak mengarah kepada sastu tujuan, tidak ada pembagian peranan dan pembagian alat-alat permainan
  6. Cooperative Play. Anak-anak bermain dalam kelompok yang teroganisir, dengan kegiatan-kegiatan konstruktif dan membuat sesuatu yang nyata dimana setiap anak mempunyai peranan sendiri-sendiri. Kelompok ini di pimpin dan diarahkan oleh satu atau dua orang anak sebagai pimpinan kelompok.

Kategori Parten tersebut berdasarkan kategori permainan yang menekankan di dalam dunia sosial anak, tetapi ada juga permainan yang menekankan pada aspek kognitif dan sosial dari suatu pemainan.

  1. Permainan Sensorimotor / Praktis.

Permainan Sensorimotor ialah perilaku yang diperlihatkan oleh bayi untuk memperoleh kenikmatan dan melatih perkembangan sensorimotor mereka. Selama tahun-tahun pra sekolah anak terlibat dalam permainan yang melibatkan praktek beragam keterampilan.

  1. Pemainan Pura-Pura / Simbolis.

Pemainan Pura-Pura / Simbolis terjadi ketika anak mentransformasikan lingkungan fisik kedalam suatu simbol. Jenis permaian khayalan ini seringkali nampak pada usia kurang lebih 18 bulan dan mencapai puncak pada usia 4 hingga 5 tahun, kemudian menurun secara berangsur-angsur.

  1. Permainan Sosial.

Permainan Sosial ialah permainan yang melibatkan interaksi sosial dengan teman-teman sebaya.

  1. Permainan Konstruktif.

Permainan Konstruktif mengkombinasikan kegiatan sensorimotor yang berulang dengan representasi gagasan-gagasan simbolis. Permainan konstruktif terjadi ketika anak-anak melibatkan diri dalam suatu kreasi atau konstruksi suatu produk atau suatu pemecahan masalah ciptaan sendiri. Misalnya menggerakkan jari-jari mereka ke kuas (permainan praktis), anak-anak lebih suka mengambar kerangka rumah atau orang (permainan konstruktif).

  1. Games

Games adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh kenikmatan aturan dan seringkal kompetisi dengan satu orang atau lebih.

  1. D. PERKEMBANGAN MORAL

Perkembangan moral adalah berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain. Anak-anak ketika dilahirkan tidak memiliki moral, tetapi dalam dirinya terdapat potensi moral yang siap untuk dikembangkan. Karena itu, melalui pengalamannya berinteraksi dengan orang lain, anak belajar memahami tentang perilaku mana yang baik, yang boleh dikerjakan dan tingkah laku mana yang buruk, yang tidak boleh dikerjakan.

Teori Psikoanalisa Tentang Perkembangan Moral.

Menurut teori psikoanalisa klasik Freud, semua orang mengalami konflik Oedipus. Konflik ini akan menghasilkan pembentukan struktur kepribadian yang dinamakan Freud sebagai superego. Ketika anak mengatasi konflik Oedipus ini, maka perkembangan moral dimulai. Salah satu alasan mengapa anak mengatasi konflik Oedipus adalah perasaan khawatir akan kehilangan kasih sayang orang tua dan ketakuatan akan dihukum karena keinginan seksual mereka yang tidak dapat diterima terhadap orang tua yang berbeda jenis kelamin.

Teori Belajar Sosial Tentang Perkembangan Moral

Studi tentang perilaku moral telah dipengaruhi oleh teori belajar sosial. Teori belajar sosial melihat tingkah laku moral sebagai respon atas stimulus. Dalam hal ini, proses-proses penguatan, penghukuman, dan peniruan digunakan untuk menjelaskan perilaku moral anak-anak.

Bila anak diberi hadiah atas perilaku yang sesuai dengan aturan dan kontrak sosial, mereka akan mengulangi perilaku tersebut. Sebaliknya, bila mreka dihukum atas perilaku yang tidak bermoral, maka perilaku itu akan berkurang atau hilang.

Teori Kognitif Piaget Tentang Perkembangan Moral

Bagi Piaget, perkembangan moral digambarkan melalui aturan permainan. Karena itu, hakikat moralitas adalah kecenderungan untuk menerima dan menaati sistem peraturan. Berdasarkan hasil observasi terhadap aturan-aturan permainan yang digunakan anak-anak. Piaget menyimpulkan bahwa pemikiran anak-anak tentang moralitas dapat dibedakan atas dua tahap, yaitu :

Þ    Heteronomous Morality, tahap perkembangan moral ini terjadi kira-kira pada usia 4 hingga 7 tahun. Anak-anak pada masa ini yakin akan keadilan immanen, yaitu konsep bahwa bila suatu aturan dilanggar, hukuman akan segara dijatuhkan.

Þ    Autonomous Morality, tahap perkembangan moral ini terjadi kira-kira usia 7 hingga 10 tahun. Anak menjadi sadar bahwa aturan-aturan dan hukuman diciptakan oleh manusia dan dalam menilai suatu tindakan, seseorang harus mempertimbangkan maksud pelku dan juga akibatnya.

  1. II. FAKTOR-FAKTOR YANG MENGHAMBAT DAN MENDORONG PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL.

Faktor-faktor yang mendorong perkembangan psikososial pada masa kanak-kanak awal diantaranya adalah lingkungan sosial yang baik, misalnya orang tua (pengasuh), sanak keluarga, orang dewasa lainnya atau teman sebayanya. Apabila lingkungan sosial tersebut menfasilitasi atau memberikan peluang terhadap perkembangan anak secara positif maka anak akan dapat mencapai perkembangan sosialnya secara matang.

Lingkungan yang mendukung ketika anak mulai memasuki taman kanak-kanak, misalnya guru harus bisa menfalitasi perkembangan sosial anak seperti :

a)      Membantu anak agar memahami alasan tentang diterapkannya aturan. Misalnya keharusan memelihara ketertiban di dalam kelas dan melarang masuk atau masuk kelas saling mndahului.

b)      Membantu anak untuk memahami, dan membisaakan mereka untuk memelihara persahabatan , kerjasama, saling membantu, dan saling menghargai atau menghormati.

c)      Memberikan informasi kepada anak tentang adanya keragaman budaya, suku dan agama di masyarakat atau dikalangan anak sendiri, dan tentunya saling menghormati diantara mereka.

Pada perkembangan moral, hal-hal yang mendorong dalam menanamkan konsep moral adalah :

a)      Berilah pujian, ganjaran atau sesuatu yang menyenangkan anak, apabila dia melakukan perbuatan yang baik. Ganjaran ini akan menjadi faktor penguat (reinforcement) bagi anak untuk mengulangi perbuatan baik tersebut.

b)      Berilah hukuman, apabila dia melakukan perbuatan yang tidak baik. Hukuman tersebut akan menjadi penguat bagi anak untuk tidak mengulangi perbuatan yang tidak baik.

Faktor-faktor yang menghambat perkembangan psikososial pada masa kanak-kanak awal diantaranya adalah apabila lingkungan sosial itu kurang kondusif, seperti perlakuan orang tua yang kasar : sering memarahi, acuh tak acuh, tidak memberikan bimbingan, teladan, pengajran atau pembisaaan terhadap anak dalam menerapkan norma-norma baik agama maupun tatakrama atau budi pekerti; cenderung menampilkan perilaku maladjustment , seperti bersifat minder, senang mendominasi orang lain, bersifat egois (Selfish), senang menyendiri / mengisolasi diri, kurang memiliki perasaan tenggang rasa, dan kurang memperdulikan norma dalam berperilaku.

KESIMPULAN

Perkembangan sosial merupakan pencapaian dalam hubungan sosial. Anak diahirkan belum bersifat sosial. Dalam arti dia belum memiliki kemampuan bergaul dengan orang lain. Oleh karena itu, untuk mencapai kematangan sosial anak harus belajar tentang cara-cara menyesuaikan dengan orang lain. Kemampuan ini diperoleh anak melalui berbagai kesempatan atau pengalaman bergaul dengan orang-orang di lingkungannya, baik orang tua, saudara, atau teman sebayanya.

Perkembangan sosial anak sangat dipengruhi oleh proses perlakuan atau bimbingan orang tua terhadap anak dalam mengenalkan berbagai aspek kehidupan sosial., atau norma-norma kehidupan bermasyarakat serta mendorong atau memberi contoh kepada anakanya bagaimana menerapkan norma-norma tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Proses bimbingan orang tua ini lazim disebut dengan sosialisasi.

Sosialisasi dari orang tua ini sangat penting bagi anak, karena dia masih terlalu muda dan belum memiliki pengalaman untuk membimbing perkembangannya sendiri kearah kematangan. Melalui pergaulan atau hubungan sosial, baik dengan orang tua, anggota keluarga, orang dewasa lainnya maupun teman bermain, anak mulai mengembangkan bentuk-bentuk tingkah laku sosial.

1 Komentar (+add yours?)

  1. alice pngen .....
    Apr 17, 2010 @ 05:11:51

    hemh…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: