Lupa (Forgetting)

Fenomena lupa merupakan kegagalan seseorang di dalam menggali kembali informasi yang telah di simpan di gudang ingatan (Solso, 1988). Para ahli berbeda pendapat mengenai fenomena lupa. Sebagian ahli beranggapan bahwa lupa terjadi karena adanya kerusakan informasi yang disimpan di dalam ingatan akibat jarang digunakan. Sebagian ahli yang lain khususnya ahli psikologi kognitif mempercayai bahwa lupa terjadi karena interferensi atau terhalang oleh informasi yang  lain. Informasi lain yang menghalangi itu dapat berupa informasi baru (new informasion) atau informasi lama (old information). Pendapat yang berbeda-beda itu dapat menimbulkan paradigma atau teori yang berbeda-beda pula di dalam memahami fenomena lupa.

Caplin dalam kamus psikologi, menyebutkan bahwa lupa adalah kehilangan kemampuan untuk mengingat, mengingat kembali atau menimbulkan kembali dalam ingatan sesuatu yang telah dipelajari sebelumnya.

Ada beberapa factor yang mempengaruhi seseorang lupa, yaitu :

  1. Apa yang diamati
  2. Bagaimana situasi dan proses pengamatan itu berlangsung
  3. Apakah yang terjadi dalam jangka waktu berselang itu, dan
  4. Bagaimana situasi ketika berlangsungnya ingatan itu.

Teori-teori lupa

Para ahli mengajukan tiga teori mengenai lupa, yaitu : teori kerusakan (decay theory), teori interferensi atau terhalang (interference theory) dan teori ketergantungan pada insyarat (cue dependent forgetting theory).

Decay theory (teori kerusakan)

Teori ini beranggapan bahwa lupa dapat terjadi karena informasi yang pernah disimpan di dalam ingatan tidak pernah atau jarang digunakan, sehingga lama-kelamaan akhirnya mengalami kerusakan (hilang dengan sendirinya). Jadi, jika seseorang lupa menyebut nama kawan lama ketika berjumpa setelah beberapa tahun tidak berkomunikasi, maka terjadinya lupa disebabkan karena orang itu jarang menyebutkan nama temannya.

Interference theory (teori halangan)

Teori interferensi mendasarkan pandangan pada psikologi asosiasi. Suatu asosiasi dibentuk antara stimulus tertentu dengan respon yang tertentu pula. Asosiasi atau hubungan ini tetap berlangsung di dalam ingatan sepanjang tidak ada informasi lain yang menggangggu atau menghalanginya (Solso, 1988). Interferensi oleh informasi lain di dalam ingatan dibedakan menjadi dua macam : retroactive inhibition dan proactive inhibition.

Retroactive inhibition terjadi apabila materi atau informasi yang baru menghalangi seseorang untuk mengingat informasi yang lama. Sebaliknya di sebut proactive inhibition apabila informasi atau materi yang lama menghalangi seseorang untuk mengingat informasi yang baru. Untuk membedakan kedua jenis interferensi ini dapat dibuat misalnya dalam skenario eksperimen berikut. Skenario pertama, mula-mula sekelompok mahasiswa diminta untuk mempelajari sebuah meteri perkuliahan manajemen, sesudah selesai, kemudian diminta untuk mempelajari sebuah meteri perkuliahan psikologi. Sesudah itu kemudian diberikan ujian materi manajemen yang telah dipelajari sebelumnya. Jika mahasiswa mengalami lupa dalam mengingat kembali materi manajemen akibat terganggu oleh materi psikologi yang baru saja selesai dipelajari, maka hal ini disebut retroactive inhibition.

Skenario kedua, mula-mula sekelompok mahasiswa diminta untuk memepelajari sebuah materi manajemen, sesudah selesai, kemudian dilanjutkan mempelajari sebuah materi perkuliahan psikologi. Sesudah itu, kemudian diberi ujian materi psikologi yang baru saja dipelajari itu. Jika mahasiswa mengalami lupa dalam mengingat kembali materi psikologi akibat terganggu oleh materi manajemen yang pernah dipelajari sebelumnya, maka hal ini di sebut proactive inhibition.

Cue-Dependent Forgetting Theory

Teori ini berasal dari pendekatan pemprosesan informasi. Toeri ini berpandangan bahwa pada prinsipnya lupa terjadi karena disebabkan oleh kerusakan informasi di dalam ingatan atau terhalangnya oleh informasi yang lain, tetapi disebabkan oleh terlalu jauh letak atau lemah isyarat sesuatu yang ingin diingat kembali oleh seseorang. Misalnya, orang merasa ingat sesuatu-nama seseorang- namun ia mengalami kesulitan untuk menyebutkan, karena isyarat-isyarat sangat kabur di dalam ingatannya waktu itu. Isyarat-isyarat yang kabur mengenai suatu informasi yang pernah disimpan di dalam ingatan ini dapat terjadi tidak hanya pada informasi lama, tetapi juga pada informasi baru. Misalnya karena seseorang sudah pindah ketempat kerja yang baru, maka ia mengalami kesulitan mengingat nomor telpon yang lama, sementara nomor telpon di kantor yang baru juga belum diingat betul.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: