Kekerasan dalam dunia pendidikan

BAB I

PENDAHULUAN

Pendidikan adalah suatu upaya untuk penumbuh kembang sumber daya manusia melalui proses hubungan interpersonal (hubungan antar pribadi) yang berlangsung dalam lingkungan masyarakat dan keluarga. Seseorang yang berkecipung dalam dunia pendidikan, dia akan menghabiskan banyak waktunya di tempat dimana dia memperoleh pendidikan, entah itu di lembaga formal dari TK ataupun sampai perguruan tinggi. Ataupun dia berada di lembaga pendidikan non-formal. Seseorang akan meniru apa yang dia lihat atau apa yang cenderung dia rasakan, proses ini yang dimanakan sebagai proses imitasi atau modeling. Misalnya seorang pelajar dia akan banyak meniru orang-orang yang lebih sering berada di sekitarnya, baik itu teman, guru atau figur-figur lain. Dalam makalah ini, akan lebih dibahas tentang sebuah fenomena kekerasan yang terjadi dalam sebuah lembaga pendidikan serta bagaimana sebuah teori psikologi sosial menjelaskan bagaimana sebuah kekerasan dapat terjadi di lembaga tersebut. Yang mana kekerasan di dalam lembaga tersebut adalah akibat dari proses belajar yang terjadi secara turun temurun.

BAB II

A. FENOMENA DALAM BIDANG PENDIDIKAN

Kekerasan yang terjadi di Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Jatinangor, Sumedang, merupakan cermin gagalnya program reformasi pendidikan nasional. Kekerasan yang menyebabkan meninggalnya Cliff Muntu, seorang praja berusia 19 tahun, oleh kalangan seniornya adalah fakta sosiologis gagalnya pemerintah dalam menerjemahkan visi masa depan pendidikan nasional dalam korelasinya dengan proses pembangunan bangsa dan terbentuknya peradaban umat manusia secara universal. Sangat mengerikan, karena bisa jadi data di atas ini sekadar puncak gunung es yang hanya tampak di permukaan. Kasus kekerasan yang sebenarnya di IPDN itu mungkin saja sudah sangat kronis, sehingga sangat sulit dibenahi kembali. Bisa jadi para pendidik di lingkungan IPDN tersebut menganggap kekerasan yang terjadi selama ini hanyalah fenomena biasa, “ritual” balas dendam yang terjadi turun-temurun. Buktinya, banyak sekali kasus di luar batas kemanusiaan terjadi tanpa ada upaya perbaikan yang memadai Hasil penelitian terkait dengan masalah ini menunjukkan data yang sangat mengejutkan. Disinyalir, semenjak 2000 hingga 2004, diperoleh data adanya pergaulan seks bebas dalam 600 kasus, 35 kasus penganiayaan berat, 9.000 penganiayaan ringan, dan ada 125 praja yang terlibat penggunaan narkotik dan obat-obatan terlarang (narkoba). Data ini memperkuat argumentasi betapa program reformasi pendidikan nasional kita itu telah gagal. Boleh jadi kasus serupa sebenarnya juga terjadi dalam banyak institut atau universitas lainnya di negeri ini, tapi belum terkuak ke permukaan Digabungnya Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) dan Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) menjadi IPDN pada 2004 ternyata tidak mampu membangun paradigma baru bagi lembaga pendidikan ini. Mengapa mereka (pihak-pihak yang terkait dengan lembaga pendidikan ini, terutama pemerintah) tidak mampu melakukan perubahan? kasus kekerasan yang terjadi dan terus terulang di lembaga pendidikan ini sudah sangat kronis dan kompleks. Kesalahan awal terletak pada dangkalnya pemikiran para stakeholder saat dilakukan perubahan pada dua lembaga pendidikan ini. Pemerintah ternyata hanya melakukan perubahan pada aspek nama/institusi, bukan pada level kerangka pemikiran yang secara paradigmatik bersifat substantif. Akibat perubahan yang lebih bersifat simbolis inilah, kekerasan yang telah turun-temurun terjadi tidak terhindarkan dari waktu ke waktu. Misalnya, mengapa terjadi penganiayaan secara fisik atau mengapa ada pendidikan yang menekankan aspek fisik? Bukankah IPDN adalah lembaga pendidikan nonmiliter? Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penganiayaan ini mesti dikumpulkan sebagai instrumen analisis bagi kemungkinan untuk membangun paradigma baru di kemudian hari. Demikian halnya dengan kasus-kasus lain yang terjadi di lembaga pendidikan itu, baik pelecehan seksual, seks bebas, maupun keterlibatan mereka dalam narkotik, yang jelas-jelas melanggar hukum. Semua aspek ini penting berkenaan dengan posisi mereka sebagai calon pejabat negara yang diharapkan melanjutkan perjuangan pembangunan bangsa ini di kemudian hari. Melihat data dan fakta terkait dengan banyak kasus yang terjadi di IPDN selama ini, banyak kalangan kemudian mengusulkan agar lembaga pendidikan (IPDN) itu dibubarkan saja. Usul pembubaran ini bukannya tidak beralasan. Mereka berpandangan bahwa kekerasan yang terjadi dan terus terulang di IPDN telah mencoreng atau mencemarkan nama baik dunia pendidikan. Lebih dari itu, lembaga ini (IPDN dan juga dua lembaga sebelumnya, STPDN dan IIP) dapat dinilai gagal dalam mempersiapkan calon pejabat negara yang berkualitas. Hal ini terbukti dengan banyaknya pejabat negara yang terlibat berbagai perilaku korupsi selama ini. Memang perlu ada penelitian untuk membuktikan hal itu.

B. KAJIAN TEORI

Dalam kehidupan manusia ada dua jenis belajar, yang pertama yaitu belajar secara fisik (belajar menari, belajar naik sepeda, belajar membaca dan lain-lain) dan yang kedua adalah belajar psikis. Yang termasuk dalam belajar psikis adalah belajar sosial ( social learning), dimana seseorang mempelajari perannya dan peran orang lain dalam kontak sosial. Yang mana selanjutnya orang tersebut akan menyesuaikan tingkah lakunya sesuai dengan peran sosial yang telah dipelajarinya. Di tahun 1941, dua orang psikolog- Neil Miller dan John Dollard dalam laporan hasil percobaannya mengatakan bahwa peniruan (imitation) di antara manusia tidak disebabkan oleh unsur instink atau program biologis. Penelitian Miller dan Dollard tersebut mengindikasikan bahwa kita belajar (learn) meniru perilaku orang lain. Artinya peniruan tersebut merupakan hasil dari satu proses belajar, bukan begitu saja dari instink. Proses belajar tersebut oleh Miller dan Dollard dinamakan “social learning”. Miller dan dollard bertitik tolak dari teori Hull (mediationist) yang dikembangkan menjadi teori sendiri. Pandangan dasar mereka adalah tingkah laku manusia pada dasarnya adalah dipelajari. Dalam penelitiannya, Miller dan Dollard menunjukkan bahwa anak-anak dapat belajar meniru atau tidak meniru seseorang dalam upaya memperoleh permen. Dalam percobaannya tersebut, juga dapat diketahui bahwa anak-anak dapat membedakan orang-orang yang akan ditirunya. Lebih jauh lagi, sekali perilaku peniruan terpelajari (learned), hasil belajar ini kadang berlaku umum untuk rangsangan yang sama. Menurut Miller dan Dollard ada empat prinsip dalam belajar, yaitu dorongan (drive), isyarat (cue), tingkah laku (respons) dan ganjaran (reward). Keempat prinsip ini sangat kait-mengait dan dapat saling dipertukarkan, yaitu dorongan menjadi isyarat, isyarat menjadi ganjaran dan seterusnya. Dorongan adalah rangsang sangat kuat yang mendorong organisme untuk bertingkah laku. Dorongan ini dibedakan menjadi dua, yaitu dorongan primer (primary drive) dan dorongan sekunder (secondary drive). Menurut Miller dan Dollard semua tingkah laku didasari oleh dorongan, termasuk tingkah laku tiruan. Isyarat adalah rangsang yang menentukan bila dan dimana suatu tingkah laku balas akan timbul dan tingkah laku balas apa yang akan terjadi. Dalam belajar soaial isyarat yang terpenting adalah tingkah laku orang lain, baik yang langsung ditujukan kepada seseorang tertentu maupun tidak. Tingkah laku adalah aktivitas yang dilakukan seseorang. Sebelum suatu respon dikaitkan dengan suatu stimulus, respon itu harus terjadi terlebih dahulu. Ganjaran menurut Miller dan Dollard adalah rangsang yang menetapkan apakah suatu tingkah laku akan diulang atau tidak dalam kesempatan lain. Miller dan Dollard menyatakan bahwa ada tiga mekanisme tiruan, yaitu : 1. tingkah laku sama (same behavior) Ini terjadi apabila dua orang bertingkah laku balas sama terhadap rangsang atau iyarat yang sama. Miller dan Dollard tidak membahas hal ini karena tingkah laku yang sama tidak selalu merupakan hasil tiruan. 2. tingkah laku tergantung (matched dependent behavior) Hal ini timbul dalam hubungan antara dua pihak yang mana pihak yang lain akan menyesuaikan tingkah lakunya (match) dan akan tergantung (dependent) kepada pihak pertama. 3. tingkah laku salinan (copying) dalam tingkah laku salinan ini, si peniru bertingkah laku atas dasar isyarat (berupa tingkah laku juga) yang diberikan oleh model. Pada tingkah laku salinan si peniru memperhatikan juga tingkah laku model dimasa lalu maupun yang akan dilakukannya dimasa yang akan datang. Bandura memandang tingkah laku manusia bukan semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif manusia itu sendiri. Teori belajar sosial juga sering disebut dengan “ observational learning” yaitu pembelajaran melalui pengamatan. Contohnya, percobaan Bandura dan Walters mengindikasikan bahwa ternyata anak-anak bisa mempunyai perilaku agresif hanya dengan mengamati perilaku agresif sesosok model, misalnya melalui film kartun. Sebagai orang-orang yang juga sepaham dengan Hull, Bandura dan Walters menyatakan bahwa kalau seseorang melihat suatu rangsang dan ia melihat model bereaksi secara tertentu terhadap rangsang itu, maka dalam khayalan (imagination) orang tersebut terjadi serangkaian symbol yang menggambarkan rangsang dari tingkah laku balas tersebut. Rangkaian symbol-simbol ini merupakan pengganti hubungan rangsang balas nyata dan melalui asosiasi si peniru akan melakukan tingkah laku yang sama dengan tingkah laku model, terlepas dari ada atau tidaknya rangsang. Para teoritis belajar sosial mengatakan kita tidak seperti robot yang tidak memiliki pikiran, yang dianggap secara mekanis kepada orang lain di dalam lingkungan kita. Sebagaimana kita tahu, Albert Bandura adalah arsitek utama teori belajar sosial versi kontemporer, yang dinamakan teori belajar sosial kognitif (cognitive social learning theory). Bandura yakin kita belajar dengan mengamati apa yang dilakukan oleh orang lain. Model belajar terbaru Bandura meliputi perilaku, pribadi/orang, dan lingkungan. Faktor-faktor perilaku, kognitif dan pribadi lain, serta pengaruh lingkungan bekerja secara interaktif. Perilaku dapat mempengaruhi kognisi dan sebaliknya, kegiatan kognisi seseorang dapat mempengaruhi lingkungan, pengaruh lingkungan dapat mengubah proses pemikiran orang dan seterusnya. Ada tiga macam pengaruh tingkah laku model pada tingkah laku peniru, yaitu: 1) Efek modeling (modeling effect) dimana peniru melakukan tingkah laku baru (melalui asosiasi-asosiasi) sehingga sesuai dengan tingkah laku model. 2) Efek menghambat (inhibition) dan menghapus hambatan (disinhibition), yaitu tingkah laku yang tidak sesuai dengan tingkah laku model dihambat timbulnya, sdangkan tingkah laku yang sesuai dengan tingkah laku model dihapus hambatan-hambatannya sehingga timbul tingkah laku yang dapat menjadi nyata. 3) Efek kemudahan (fascilitation effects) dimana tingkah laku yang sudah pernah dipelajari peniru lebih mudah muncul kembali dengan mengamati tingkah laku model. Pendekatan teori belajar sosial terhadap proses perkembangan sosial dan moral ditekankan pada perlunya conditioning (pembiasaan merespon) dan imitation (peniruan).

C. PEMBAHASAN

Belajar adalah key term “istilah kunci” yang paling vital dalam setiap usaha pendidikan, sehingga tanpa belajar sesungguhnya tak pernah ada pendidikan. Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Setiap orang beranggapan bahwa belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau menghafal fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi/materi pelajaran. Chaplin (1972) dalam dictionary of psychology membatasi belajar dengan dua macam rumusan, rumusan pertama berbunyi “balajar adalah proses perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman”, sedang rumusan yang kedua yaitu “ balajar adalah proses memperoleh respon-respon sebagai akibat adanya latihan “. Hinztman (1978) dalam bukunya the psychology of learning ang memory berpendapat bahwa belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri organisme, disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut. Dari beberapa definisi tentang belajar tersebut, dapat kita fahami bahwa manusia dapat belajar melalui pengalaman atau respon-respon akibat dari latihan. Jika kita tinjau kembali sebuah fenomena yang sudah tidak begitu asing kita dengar yaitu kasus kekerasan dalam pendidikan di IPDN, maka dapat kita tarik pemahaman bahwa para mahasiswa (senior) yang menganiaya mahasiswa lain adalah diakibatkan oleh proses belajar, entah itu berasal dari pengalaman dirinya atau pengalaman teman yang lain. Jika kita kaji melalui teori Miller dan Dolllard, kekerasan dalam pendidikan yang terjadi di IPDN adalah akibat dari peniruan (imitation) yaitu merupakan hasil dari satu proses belajar, para senior belajar melalui beberapa rangkaian sederet pengalaman yang pernah mereka alami, ini dapat kita lihat dari data yang diperoleh bahwa tindak kekerasan tersebut sebenarnya sudah lama bahkan terjadi secara turun-temurun dan menjadi sebuah “ritual” kekerasan. Miller dan Dollard menyatakan ada tiga mekanisme tiruan, yang ketiga yaitu tingkah laku salinan (copying). Pada kasus ini, si peniru bertingkah laku atas dasar isyarat (berupa tingkah laku juga) yang diberikan model. Yang pada kasus ini para senior bertingkah laku atas dasar isyarat yang di berikan model di masa lalu yaitu senior yang terdahulu. Adapun Bandura yang tekenal dengan teori social learning, dia beranggapan bahwa tingkah laku manusia bukan semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R), melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara lingkungan dengan skema kognitif manusia itu sendiri. Dalam kasus ini, tingkah laku senior dalam menganianya bawahannya adalah merupakan reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi dia dengan lingkungan yang sudah sering atau bahkan menjadi ritual kekerasan dengan skema kognitif senioar tersebut yaitu menganggap kekerasan di tempatnya adalah hal biasa terjadi bahkan mungkin dia sendiri juga pernah mengalaminya. Selain itu, Bandura berpendapat bahwa faktor-faktor perilaku, kognitif dan pribadi lain, serta pengaruh lingkungan bekerja secara interaktif. Mari coba kita perhatikan bagaimana model Bandura bekerja dalam kasus kekerasan dalam pendidikan di IPDN. Ketika mahasiswa memperoleh perlakuan kekerasan dari kakak seniornya perilakunya menghasilkan pemikiran bahwa melakukan kekerasan dan tidak mendapatkan hukuman adalah wajar di lakukan di IPDN, karena dia mendapat perlakuan begitu dari kakak seniornya dia akan memperlakukan adik angkatannya dengan demikian pula. Dengan cara ini, perilakunya mempengaruhi pemikirannya dan pemikirannya mempengaruhi perilakunya. Karena kekerasan dalam bidang pendidikan di IPDN sudah merupakan hal yang biasa terjadi maka senior-senior yang ada akan terus menganiaya adik angkatannya, mereka terus menganiaya karena lingkungan tidak menyalahkannya, padahal IPDN adalah lembaga pendidikan ternama yang nantinya akan menghasilkan calon-calon pemimpin yang diharapkan bisa menjadi figur masyarakat. Dengan cara ini, lingkungan mempengaruhi perilaku dan perilaku mengubah lingkungan. Para senior beranggapan bahwa pendidikan dengan menggunakan kekerasan nantinya akan menghasilkan seorang pemimpin yang baik dan mereka dulunya juga mengalami hal yang sama sehingga mereka tetap melakukan kekerasan dalam mendidik para mahasisiswa baru yang sudah menjadi ritual di IPDN, karena lingkungan IPDN tidak menyalahkan bahkan tidak pernah terbongkarnya kasus kekerasan tersebut maka para senior menganggap hal ini wajar-wajar saja. Dalam hal ini, pemikiranlah yang merubah lingkungan , serta lingkunganlah yang merubah pemikiran. Demikianlah model Bandura menjelaskan atentang model kekerasan yang terjadi di lembaga pendidikan terkemuka tersebut. Wallahu’alam. Dalam kasus kekerasan tersebut, seseorang yang memiliki intensitas sering melihat kekerasan, misalnya sering melihat atau merasakan dianiaya, maka hanya dengan melihat berbagai kejadian yang menstimulasi agresi, orang bisa menjadi agresi. Salah satu karakteristik penting dalam proses modeling ini adalah adanya hubungan emosional yang kuat antar model dengan peniru.

BAB III

PENUTUP

Dari fenomena kekerasan yang terjadi dalam lembaga pendidikan ternama IPDN tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa perilaku agresif/kekerasan timbul akibat dari adanya proses pembelajaran, mereka melakukan pemodelan atau imitasi. Dari fenomena yang ada, tingkah laku senior ketika menganianya bawahannya (mahasiswa) adalah merupakan reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi dia dengan lingkungan yang sudah sering atau bahkan menjadi ritual kekerasan dengan skema kognitif senioar tersebut, yaitu menganggap kekerasan di tempatnya adalah hal biasa terjadi bahkan mungkin dia sendiri juga pernah mengalaminya. Dalam model belajar terbaru Bandura meliputi perilaku, pribadi/orang, dan lingkungan. Faktor-faktor perilaku, kognitif dan pribadi lain, serta pengaruh lingkungan bekerja secara interaktif. Perilaku dapat mempengaruhi kognisi dan sebaliknya, kegiatan kognisi seseorang dapat mempengaruhi lingkungan, pengaruh lingkungan dapat mengubah proses pemikiran orang dan seterusnya. Demikianlah suatu proses yang terjadi di dalam lembaga pendidikan tersebut jika dipandang dari sudut teori belajar sosial (social learning theory).

DAFTAR PUSTAKA

 Boeree, George, 2006. Personality Theories. Yogyakarta : Prisma Sophie.  Wirawan. S , Sarlito. 2006 . Teori-teori Psikologi Sosial. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.  Syah, Muhibbin, 2004 . Psikologi Belajar. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.  Faturochman, 2006 . Pengantar Psikologi Sosial. Yogyakarta : Pustaka.  http://www.tempointeraktif.com

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: